Di sudut kecil negeri ini, ada seorang wartawan bernama Aya yang menjalani hidup dengan penuh pengorbanan. Setiap hari, ia menyisipkan waktu untuk mencari dan berbagi dengan istri serta putrinya, sebelum kembali menjalankan tugas mulianya: meliput dan mengungkap fakta demi kebaikan bangsa. Namun, di balik perjuangan itu, ada sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Saat pulang ke rumah, Aya selalu membawa senyum meski tak membawa hasil materi. Sang istri, yang mengkhawatirkan nasib keluarganya, pernah bertanya, “Berapa sih gaji Aya sebagai wartawan?” Dengan senyum yang tulus, Aya menjawab, “Saya tidak digaji, tapi kadang mendapat jasa sebesar 100 ribu untuk bensin dan makan. Tapi bukan itu yang utama, niat kita adalah untuk masyarakat, untuk mengungkap fakta agar negara ini terhindar dari korupsi.”
Perjuangan Aya bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati. Demi memastikan keluarganya tetap bisa makan, Aya harus bekerja serabutan sebagai buruh harian lepas, mengumpulkan sedikit uang agar dapat turun kembali meliput. “Aya tetap berjuang dan berkarya, karena yang terpenting bagi Aya adalah makan dengan hasil yang halal,” ujar sang istri, N.
Kisah ini mencerminkan realitas banyak wartawan di negeri ini, yang sering kali diabaikan dan tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak. Padahal, mereka adalah garda terdepan dalam menjaga kebenaran dan keadilan. Di bulan suci Ramadan, kesulitan mereka semakin terasa, karena permohonan bantuan ke berbagai instansi, sering kali tidak mendapat respons yang diharapkan.
Ironisnya, di saat negara bergantung pada pers untuk mengawasi jalannya pemerintahan dan menegakkan demokrasi, insan pers justru kerap terpinggirkan. Kisah Aya adalah cerminan bahwa wartawan bukan sekadar pencari berita, tetapi juga pejuang keadilan yang layak mendapatkan perhatian dan kesejahteraan dari negara.
Saatnya pemerintah dan masyarakat membuka mata, bahwa pers yang kuat membutuhkan dukungan, bukan sekadar apresiasi dalam kata-kata. Karena tanpa mereka, kebenaran akan semakin sulit ditemukan, dan demokrasi bisa kehilangan arah.//Aldyokay:Jurnalis.


