
Sehebat-hebatnya orasi tak‘kan mampu menceritakan perihnya luka bangsa negeri ini. Huruf-huruf mati yang telah lama mengendap dalam buaian masa kecil tanpa jiwa
Kami pun berlari keluar membawa bambu runcing dan bendera
Menatap tak percaya pada berjuta muka di abad merdeka
Pada muka kusut orang pinggiran
Pada muka cemas orang buangan
Pada muka letih orang yang mengais rupiah di jalan
Pada muka lusuh orang yang meminta di pinggir jalan pembangunan
Pada muka berbinar semu yang hanya bisa menganga
Melihat berbagai indahnya produk dunia,di berbagai etalase dan indahnya plaza. Muka yang sama yang lebih sering diam menjerit mulai bertanya
Bukankah tanah air kita satu?
Bukankah bangsa kita satu?
Bukankah bahasa kita satu?
Bukankah bendera kita satu?
Tapi mengapa jalan pembangunan melebar di mana-mana. Menghubungkan semua kota dan desa, jembatan pembangunan memang kokoh melintasi sungai di mana-mana tapi siapakah yang bisa menjembatani jurang di antara kita?
Pada tali kusam perahu layar yang tertambat pasrah, Pada puncak-puncak lusuh tiang tembaga yang terjual murah, Pada lembah-lembah kaya yang kini kering dan hampa
Pada pidato kenegaraan yang menjual negeri ini di ujung dunia
Mungkin dulu aku salah berjuang bersama
Mungkin dulu aku salah mengangkat senjata
Mungkin dulu aku semestinya tidak meneriakkan merdeka
Mungkin dulu sudah sewajarnya aku terima tawaran nikmat Belanda
Yang aku lihat rakyatmu terkoyak Yang Mulia
Bendera hati diinjak ketidakpedulian pada saudara
Yang aku lihat hujan deras tak lagi menutup luka menganga mengiris pada jiwa mereka
Kita belum merdeka, rakyat kita dianiaya disisa waktu penjajah oleh raja kita yang punya tahta.


