Merdeka Yang Dibuang!

Ahkam Kurniawan Buamona

Sehebat-hebatnya orasi tak‘kan mampu menceritakan perihnya luka bangsa negeri ini. Huruf-huruf mati yang telah lama mengendap dalam buaian masa kecil tanpa jiwa

Kami pun berlari keluar membawa bambu runcing dan bendera

Menatap tak percaya pada berjuta muka di abad merdeka

Pada muka kusut orang pinggiran

Pada muka cemas orang buangan

Pada muka letih orang yang mengais rupiah di jalan

Pada muka lusuh orang yang meminta di pinggir jalan pembangunan

Pada muka berbinar semu yang hanya bisa menganga

Melihat berbagai indahnya produk dunia,di berbagai etalase dan indahnya plaza. Muka yang sama yang lebih sering diam menjerit mulai bertanya

Bukankah tanah air kita satu?

Bukankah bangsa kita satu?

Bukankah bahasa kita satu?

Bukankah bendera kita satu?

Tapi mengapa jalan pembangunan melebar di mana-mana. Menghubungkan semua kota dan desa, jembatan pembangunan memang kokoh melintasi sungai di mana-mana tapi siapakah yang bisa menjembatani jurang di antara kita?

Pada tali kusam perahu layar yang tertambat pasrah, Pada puncak-puncak lusuh tiang tembaga yang terjual murah, Pada lembah-lembah kaya yang kini kering dan hampa

Pada pidato kenegaraan yang menjual negeri ini di ujung dunia

Mungkin dulu aku salah berjuang bersama

Mungkin dulu aku salah mengangkat senjata

Mungkin dulu aku semestinya tidak meneriakkan merdeka

Mungkin dulu sudah sewajarnya aku terima tawaran nikmat Belanda

Yang aku lihat rakyatmu terkoyak Yang Mulia

Bendera hati diinjak ketidakpedulian pada saudara

Yang aku lihat hujan deras tak lagi menutup luka menganga mengiris pada jiwa mereka

Kita belum merdeka, rakyat kita dianiaya disisa waktu penjajah oleh raja kita yang punya tahta.