SAHRIL HELMI: Gugur dalam Tugas, Namanya Abadi dalam Jurnalistik

“Jurnalisme adalah pengabdian, dan Sahril Helmi gugur dalam tugas mulianya. Namanya abadi, perjuangannya tak akan pernah padam.” faktamalut.com

HALSEL, Fakta Malut | Langit Desa Bisui, Kecamatan Gane Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, tampak muram malam ini. Cahaya lampu penerangan yang temaram tak mampu mengusir duka mendalam yang menyelimuti keluarga, sahabat, dan rekan-rekan jurnalis. Sahril Helmi, jurnalis Metro TV yang gugur saat menjalankan tugas, akhirnya dimakamkan di tanah kelahirannya. Isak tangis dan doa mengiringi kepergiannya, menandai perpisahan dengan seorang pejuang berita yang kini kembali ke pangkuan bumi.

Tragedi itu terjadi di perairan Gita, Oba Selatan, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, pada Minggu (2/2). Sahril Helmi tengah mengikuti misi kemanusiaan—meliput proses evakuasi seorang nelayan yang mesinnya mati di tengah laut. Namun, perjalanan itu berubah menjadi mimpi buruk. Speedboat Rigid Inflatable Boat (RIB) 04 milik Basarnas yang mereka tumpangi tiba-tiba meledak, menewaskan empat orang di lokasi. Sahril sempat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

Tiga korban lainnya adalah Bharatu Mardi Hadji dari Ditpolairud Polda Malut serta dua anggota Basarnas, Fadli M Malagapi dan M Riski Esa. Sementara itu, tujuh orang lainnya berhasil selamat meski mengalami luka-luka. Dugaan awal menyebutkan kebocoran bahan bakar yang bersentuhan dengan sumber api sebagai pemicu ledakan, namun penyelidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap penyebab pastinya.

Jenazah Sahril dipulangkan setelah melalui perjalanan panjang. Saat tiba di kampung halamannya, suasana haru tak terbendung. Sosoknya yang dikenal gigih dan penuh semangat kini hanya bisa dikenang lewat cerita dan karya jurnalistiknya. Dalam setiap tugas, ia bukan sekadar pencatat peristiwa, tetapi juga saksi dari realitas yang harus disampaikan kepada masyarakat.

Kepergiannya menjadi pukulan berat bagi dunia pers, terutama di Maluku Utara. Sahril adalah gambaran nyata dari jurnalis yang tak gentar menghadapi risiko demi menghadirkan kebenaran. Ia selalu berada di garis depan, membawa informasi dari titik-titik paling sulit dijangkau. Dedikasinya tak hanya tercermin dalam liputannya, tetapi juga dalam keberaniannya menghadapi bahaya.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan sebuah pengabdian. Ada nyawa yang dipertaruhkan, ada risiko yang mengintai di setiap sudut liputan. Sahril Helmi telah mengorbankan segalanya demi tugas mulianya. Ia mungkin telah pergi, tetapi semangat dan perjuangannya akan terus hidup dalam ingatan para jurnalis dan masyarakat yang menghargai arti sebuah berita. (Abi)